Jika diumpamakan repertoar, cederanya Ronaldo di awal final Euro 2016
ialah overture (bagian pembuka) yang melempangkan munculnya klimaks yang
kaya narasi.
Kendati hanya mencetak tiga gol, hanya dua kali menjadi man of the match,
dan hanya delapan kali menyentuh bola di laga final, tetap saja Ronaldo
yang pada akhirnya menjadi pusat. Setelah pertandingan berakhir, dengan
sadar ia membuka baju menunjukkan otot-otot liatnya seolah bermain
penuh selama 120 menit, dengan penuh percaya diri mengambil posisi di
tengah saat tim Portugal berkumpul di lapangan bersorak sorai, juga saat
Portugal naik ke podium.
Dialah sang protagonis: tak selalu dicintai, tak semua menyukai, tapi tetap menjadi yang utama.
Merujuk
skenario pertunjukan balet berjudul 'Swan Lake' yang cerita dan
musiknya digubah maestro Pyotr Ilyich Tchaikovsky (dipentaskan pertama
kali pada 1877 di Bolshoi Ballet, Moskow), Ronaldo adalah Odette, si
angsa putih. Angsa putih merujuk bukan hanya karakter yang baik dan
cantik, namun juga lakon utama. Ia menjadi sorotan, penuh pesona dan
akhirnya diidam-idamkan semua orang. Penonton memimpikannya sebagai
kekasih, semua balerina menginginkan perannya.
Siapa yang pernah
menonton film 'Black Swan' (2010) mengetahui Nina Sayers (diperankan
Natalie Portman) dan Lily (diperankan Mila Kunis) sama-sama menginginkan
peran itu. Yang menarik dari film 'Black Swan' adalah angsa putih dan
hitam tampil sebagai amsal dari kepribadian yang kompleks, yang tidak
hitam-putih – ketika yang hitam bisa menjadi putih, saat yang putih
menyelinap ke dalam yang hitam. Film 'Black Swan' mengingatkan penonton
betapa manusia pada dasarnya punya banyak sisi, setidaknya dua sisi:
gelap dan terang, putih dan hitam. Keduanya saling melengkapi, saling
menyempurnakan.
Ronaldo adalah angsa putih, lalu siapa yang menjadi angsa hitam untuk
Portugal? Dapatkah Anda melihat di mana si angsa hitam? Bisakah Eder
juga menjadi "angsa hitam"?
Bagi Ronaldo, iya. Gol Eder, dari
sisi Ronaldo, jelas menggenapkan kariernya yang gemilang. Lengkap sudah
jenis gelar yang ia peroleh, dari gelar individual, level klub hingga
tim nasional. Gol itu juga memungkinkan, sekali lagi, Ronaldo mencuat
sebagai pusat panggung sekaligus menyempurnakan Ronaldo sebagai angsa
putih yang tak bercela, bukan angsa putih yang gagal (di final) sehingga
kegemilangannya tercoreng.
Namun bukan hanya itu! Eder juga
menyempurnakan sejarah Portugal sehingga bisalah ia dibilang sebagai
"angsa hitam" bagi sepakbola Portugal. Dialah "angsa hitam" sebagaimana
diutarakan Nassem Nicholas Thaleb dalam bukunya yang termasyhur, 'The Black Swan: The Impact of the Highly Improbable (edisi bahasa Indonesia terbit 2009)'.
Sebelum
Thaleb menulis buku itu, istilah "angsa hitam" sudah jamak dibicarakan
terutama dalam filsafat (khususnya epistemologi). "Angsa hitam" menjadi
simbol yang mematahkan teori yang sudah mapan. Karena angsa di mana-mana
berwarna putih, maka wajar jika ditarik teori "angsa itu putih".
Cara
bernalar semacam itu, yang berangkat dari fakta-fakta khusus lalu
ditarik menjadi kesimpulan/teori, disebut penalaran induktif. Kesimpulan
yang lahir dari penalaran induktif gampang dipatahkan begitu muncul
satu fakta yang berkebalikan. Dalam hal "angsa putih", begitu ditemukan
seekor angsa hitam, cukup satu ekor saja, tak peduli milyaran angsa
lainnya berwarna putih, maka teori "angsa putih" dengan sendirinya
ter-falsifikasi.
Falsifikasi dimasyhurkan Karl Popper. Melalui
falsifikasi, Popper hendak mengatakan bahwa ilmu pengetahuan berkembang
bukan karena terbukti benar namun justru karena dapat dibuktikan salah.
Pengetahuan yang terbukti salah mesti dinyatakan gagal dan diganti
pengetahuan lain, pengetahuan yang baru, dan terus begitu. Ilmu
pengetahuan, dengan demikian, berkembang justru melalui kesalahan.
Berbeda
dengan Popper yang menggunakan "angsa hitam" dalam problem filsafat
epistemologi, Thaleb menggunakan "angsa hitam" untuk memahami peristiwa
yang mengejutkan, tak terduga, menimbulkan dampak yang besar, namun
setelahnya orang dapat menyusun rasionalisasi terhadap hal itu.
Dalam
bukunya Thaleb menyebutkan beberapa contoh "angsa hitam" dalam sejarah,
seperti peristiwa 9/11 atau kemunculan Hitler (jika saya boleh
menambahkan: kemunculan Soeharto pada 1965 dan Mao Tse Tung sejak long march).
Semuanya tak terduga, atau sangat sedikit yang dapat menduga,
mengejutkan, berdampak besar, dan setelah peristiwanya terjadi barulah
orang-orang dapat membuat rasionalisasinya.
Bagi Portugal
sendiri, Eder menyerupai "angsa hitam" yang mematahkan teori bahwa
Portugal tak mungkin menjadi juara di turnamen besar jika tak memiliki
penyerang tengah kelas wahid.
Setelah Eusebio, Portugal lebih dikenal sebagai penghasil gelandang
(sayap maupun tengah) yang mumpuni yang bermain di klub top pada
zamannya: Paulo Futre (Marseille dan AC Milan), Luis Figo (Barcelona,
Real Madrid), Rui Costa (Fiorentina, AC Milan), Sergio Conceicao
(Lazio), Deco (Barcelona, Chelsea), hingga Cristiano Ronaldo (Man
United, Real Madrid). Nama-nama itu tumbuh bukan sebagai penyerang
tengah. Dalam 1,5 dekade terakhir, deretan penyerang tengah yang hilir
mudik dalam skuat Portugal hanyalah Helder Postiga, Nuno Gomes atau
Pauleta.
Pencapaian tertinggi Portugal sebelum menjuarai Euro
2016 hanyalah runner-up Euro 2004 dan semi final Piala Dunia 2006. Saat
menjadi runner-up Euro 2004, Portugal hanya mengandalkan Helder Postiga
yang bermain untuk Tottenham Hotspurs (musim 2004 Spurs ada di peringkat
14), Nuno Gomes yang bermain di liga domestik bersama Benfica dan
Pauleta yang bermain di Paris St. Germain (PSG 2004 bukanlah PSG yang
mewah seperti sekarang). Saat menembus semifinal Piala Dunia 2006,
penyerang tengah yang dibawa Portugal masih tiga pemain itu, ditambah
Luis Boa-Morte yang bermain di Fulham.
Mundur ke belakang, kala
Portugal lolos ke semifinal Euro 2000, Nuno dan Pauleta juga sudah ada
dalam skuat, plus Joao Pinto (Benfica) dan Ricardo Sa Pinto yang bermain
untuk Real Sociedad (musim 2000 Sociedad di peringat 13). Lebih ke
belakang lagi, kala Portugal lolos hingga semi final Euro 1984, mereka
juga hanya mengandalkan penyerang tengah dengan kapasitas domestik
seperti Diamantino Miranda dan Tamagnini Nene (Benfica), Fernando Gomes
(Porto), dan Rui Jurdao (Sporting Lisbon).
Sejarah panjang
ketiadaan penyerang tengah kelas wahid itulah yang membuat Portugal di
Euro 2016 tak berharap banyak pada penyerang tengah. Hanya satu
penyerang tengah yang dibawa Santos, siapa lagi kalau bukan Eder, yang
dicampakkan Swansea (bahkan kesebelasan bernama "swan" alias "angsa" pun
menampiknya). Swansea lebih memilih Befetimbi Gomis, penyerang Prancis
yang sama sekali tak dilirik Didier Deschamps.
Santos awalnya
mencoba memaksimalkan Eder. Dalam dua laga awal babak grup Euro 2016, ia
memasukkan Eder sebagai pengganti kala menghadapi Islandia dan Austria.
Hasilnya: jangankan mencetak gol, membuat tembakan saja Eder tak
sanggup.
Wajar jika Santos "kapok" menurunkan Eder. Empat laga
berikutnya (vs Hungaria, Kroasia, Polandia dan Wales), Eder tak lagi
berkeringat. Santos memilih mengandalkan Ricardo Quaresma kala ingin
menambah sengatan saat Ronaldo dan Nani dirasa mentok. Hasilnya
memuaskan. Masuk dari bangku cadangan, Quaresma membuat satu asis vital
untuk gol Ronaldo ke gawang Hungaria dan satu gol menentukan ke gawang
Polandia.
Namun sesuatu yang tak terduga muncul di final. Ronaldo
hanya bermain efektif selama 10 menit dan keluar lapangan pada menit
25. Santos harus melakukan sesuatu yang tak pernah dilakukan di laga
sebelumnya: memasukan Quaresma di babak pertama. Artinya, Quaresma masuk
bukan sebagai siasat namun dalam situasi terpaksa.
Cederanya Ronaldo lantas tak hanya menjadi overture bagi revelasi
(terkuaknya kebenaran) bahwa Portugal bukanlah one man team, sekaligus
menjadi overture kemunculan "angsa hitam".
Pada paragraf-paragraf awal bab "Umberto Eco's Antilibrary or How We Seek Validation",
Thaleb menulis bahwa "angsa hitam" muncul dari kesalahpahaman terhadap
apa yang disebut "kejutan". Dan kesalahpahaman itu dikarenakan, tulis
Thaleb, terlalu menganggap serius sesuatu yang sebenarnya hanya sedikit
kita ketahui (we take what WE KNOW a little too seriously).
Thaleb menganggap preposisi "kita tahu" (we know)
hanyalah ilusi. Preposisi "kita tahu" sering tak berdasar, dan sialnya
dipercaya begitu saja dan tak pernah mau diuji (ingat pentingnya teori
diuji menurut Popper). Teori bahwa Portugal tak akan mencicipi gelar
bergengsi tanpa keberadaan penyerang tengah top, misalnya, adalah contoh
preposisi "kita tahu" yang tak diuji secara serius. Padahal ada fakta
lain, sejenis "angsa hitam", yaitu Prancis yang menjuarai Piala Dunia
1998 tanpa dibantu satu pun gol dari para penyerang tengah.
"Kita
tahu" bahwa Portugal dalam dua dekade terakhir hanya mengandalkan
bakat-bakat hebat di lini tengah. "Kita tahu" bahwa Portugal sering
disulitkan oleh tiadanya penyerang tengah papan atas yang dapat
mengkonversi bakat-bakat di lini tengah menjadi gol. "Kita tahu" Eder
bukanlah penyerang top. "Kita tahu" Eder bermain biasa-biasa saja, jika
bukan jelek, ketika diturunkan dalam dua laga awal (tanpa membuat satu
pun tembakan, dan hanya membuat empat umpan).
Pada akhirnya,
"kita tahu" tak lagi berlaku di final Euro 2016. Setelah itu segalanya
menjadi abadi, termasuk pernyataan Fernando Santos tentang Eder yang
nadanya menyerupai sebuah anekdot: "Bebek buruk rupa masuk lapangan dan
mencetak gol. Kini ia angsa yang cantik."
Dialah yang akhirnya menuntaskan panggilan sejarah yang disebut Fernando Pessoa, maestro sastra Portugal, dalam sajak O Invante: "Tuhan, Portugal harus menuntaskannya sendiri!"
Tanpa
Eder, sejarah Portugal belum bisa dibilang terpenuhkan, masih tak
tertuntaskan. Siapa yang menduga jika kehebatan Portugal melahirkan
bakat-bakat hebat sepakbola, sampai-sampai dijuluki "Brasil-nya Eropa",
justru disempurnakan pemain yang bakatnya biasa saja, penyerang yang
tercampakkan, semacam Eder?
Inilah momen yang dimaksud Thaleb, masih dalam buku yang sama, sebagai: (saat) statistik tak terlihat, anekdot mencuat.